Evaluasi Belajar

Nama              : Reza Fadlia
NIM                   : 509.023
Mata Kuliah  : Psikologi Pendidikan         

Evaluasi Belajar

A. Analisis Taksonomi

Taksonomi adalah sistem klasifikasi. Taksonomi Bloom dikembangkan oleh Benjamin Bloom dan kawan-kawannya (1956). Taksonomi ini mengklasifikasikan sasaran pendidikan menjadi tiga domain: kognitif, afektif, dan psikomotor.

1. Domain Kognitif

Taksonomi kognitif Bloom mengandung enam sasaran:

  • Pengetahuan. Murid mempunyai kemampuan untuk mengingat informasi.
  • Pemahaman. Murid memahami informasi dan dapat menerangkannya dengan menggunakan kalimat mereka sendiri.
  • Aplikasi. Murid menggunakan pengetahuan untuk memecahkan problem kehidupan nyata.
  • Analisis. Murid memecah informasi yang kompleks menjadi bagiab-bagian kecil dan mengaitkan informasi dengan informasi lain.
  • Sintesis. Murid mengombinasikan elemen-elemen dan menciptakan informasi baru
  • Evaluasi. Murid membuat penilaian dan keputusan yang baik.

2. Domain Afektif

Taksonomi afektif terdiri dari lima sasaran yang berhubungan dengan respons emosional terhadap tugas (Krathwhol, Bloom, & Masia, 1964). Masing-masing dari lima sasaran itu mensyaratkan agar murid menunjukkan tingkat komitmen atau intensitas emosional tertentu:

  • Penerimaan. Murid mengetahui atau memerhatikan sesuatu dilingkungan.
  • Respons. Murid termotivasi untuk belajar dan menunjukan perilaku baru sebagai hasil dari pengalamannya.
  • Menghargai. Murid terlibat atau berkomitmen pada beberapa pengalaman.
  • Pengorganisasian. Murid mengintegrasikan nilai baru keperangkat nilai yang sudah ada dan memberi prioritas yang tepat
  • Menghargai karakterisasi. Murid bertindak sesuai dengan nilai tersebut dan berkomitmen kepada nilai tersebut.

3. Domain Psikomotor

Sasaran psikomotor menurut Bloom adalah:

  • Gerak refleks. Murid merespons suatu stimulus secara refleks tanpa perlu banyak berpikir.
  • Gerak fundamental dasar. Murid melakukan gerakan dasar untuk tujuan tertentu.
  • Kemampuan perseptual. Murid menggunakan indra, seperti penglihatan, pendengaran, atau sentuhan, untuk melakukan sesuatu.
  • Kemampuan fisik. Murid mengembangkan daya tahan, kekuatan, fleksibilitas, dan kegesitan
  • Gerakan terlatih. Murid melakukan keterampilan fisik yang kompleks dengan lancar.
  • Perilaku nondiskusif. Murid mengkomunikasikan perasaan dan emosinya melalui gerak tubuh.

 

B. Teknik Penilaian

1. Syarat-syarat penilaian yang baik

a. Tes itu harus reliable

Suatu tes adalah reliable apabila tes itu memiliki keajegan hasil atau consistency. Artinya tes itu sama dengan dirinya sendiri. Jika suatu tes itu diberikan kepada sekelompok subjek sekarang, dan diberikan kepada subjek yang sama itu dilain waktu hasilnya sama atau hamper sama, maka dikatakan tes tersebut memiliki reliabilitas tinggi.

b. Tes itu harus valid

Suatu tes adalah valid apabila tes tersebut mengukur apa yang seharusnya diukurnya.

c. Tes itu harus objektif

Objektifitas adalah suatu faktor yang penting yang mempengaruhi validitas dan reliabilitas. Ada dua aspek daripada objektifitas itu, yaitu:

  • Yang berhubungan dengan scoring mengenai tes itu.

Tes tersebut objektif kalau memberikan hasil yang sama jika sekiranya tes tersebut diskor oleh orang yang berlainan dan dalam waktu yang berbeda; jadi bagaimana hasil skor itu tidak tergantung kepada subjek yang memberikan skor.

  • Yang berhubungan dengan interprestasi mengenai skor dari tes tersebut.

Dipandang dari aspek ini tes itu dipandang objektif kalau hanya mengandung satu kemungkinan interpretasi saja asal interpretasi itu diberikan oleh orang yang benar-benar tahu akan persoalannya.

d. Tes itu harus diskriminatif

Suatu tes disebut diskriminatif kalau tes itu disusun sedemikian rupa sehingga dapat melacak (menunjukkan) perbedaan-perbedaan yang kecil-kecilpun. Makin baik sesuatu tes, maka makin dapatlah tes itu membuat perbedaan secara teliti.

e. Tes itu harus comprehensive

Suatu tes dikatakan comprehensive kalau tes tersebut mencakup segala persoalan yang harus diselidiki.

f. Tes itu harus mudah digunakan

Bahwa tes itu harus mudah digunakan kiranya cukup jelas manfaatnya. Jika sekiranya segala syarat-syarat telah cukup dipenuhi tetapi tes tersebut sukar untuk dilaksanakan, maka tes tersebut nilai praktisnya adalah kecil, padahal tes tersebut justru untuk tujuan dan keperluan praktis.

2. Macam-macam bentuk penilaian

            Secara garis besara ada dua macam penilaian, yaitu tes objektif dan tes subjektif atau yang biasa juga disebut essay examination.

a. Tes Subjektif

Menurut sejarah yang ada lebih dahulu adalah bentuk tes subjektif itu. Akan tetapi karena banyak kelemahan-kelemahan maka orang lalau berusaha untuk menyusun tes objektif itu. Adapun kelemahan tes subjektif itu anatara lain adalah:

  • Tes subjektif itu sukar sekali dinilai secara tepat.
  • Tes subjektif itu sukar untuk dapat comprehensive.
  • Terparuh oleh system essay examination itu, atau ada yang memang dengan kesadaran, ada kecenderungan pada si pendidik (guru) memberikan nilai seperti biasanya.
  • Masalah reliabilitas, validitas, dan objektivitas sukar dapat dijamin oleh tes subjektif itu.

 

b. Tes Objektif

  • Tes benar-salah atau tes ya-tidak

Tes benar-salah ini mungkin salah satu bentuk tes objektif yang paling terkenal. Tes ini paling mudah disusun tetapi juga paling banyak yang harus dipertimbangkan supaya didapatkan tes yang baik. Tes ini berbentuk kalimat berita atau pertanyaan yang menganduang dua kemungkinan, benar atau salah. Orang yang dites (testee) diminta untuk menentukan pilihan atau pendapatnya mengenai pertanyaan atau pernyataan tersebut dengan cara seperti yang diminta dalam petunjuk.

 

  • Tes pilihan berganda

Item dalam pilihan berganda terdiri dari suatu pertanyaan atau pernyataan yang belum selesei, diikuti oleh sejumlah kemungkinan jawaban. Pelajar atau testee harus memilih jawaban yang tepat dalam cara yang sesuai dengan apa yang disebutkan dalam petunjuk.

  • Tes membandingkan atau menyesuaikan.

Tes membandingkan atau menyesuaikan ialah tes dimana disediakan dua kelompok bahan, dan testee harus mencari pasangan-pasangan yang sesuai antara yang terdapat pada kelompok pertama dan yang terdapat pada kelompok kedua, sesuai dengan petunjuk pada tes itu.

  • Tes isian

Tes isian ini biasanya berbentuk ceritera atau karangan, dimana kata-kata penting tertentu tidak dinyatakan (dikosongkan) dan testee (pelajar, anak didik) diminta mengisi bagian-bagian yang dikosongkan itu.

 

 

Referensi:

Santrock, John.W, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2008

Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, Jakarata: Rajawali Perss, 2011

About winpsikologi
Interest phsicology

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s